5 Cara Mencegah Terjebak dari Sikap Rasis

Bertindak dan melakukan sikap rasis bisa dilakukan oleh siapapun. Anda pun mungkin kadang-kadang melakukan sikap rasis tanpa Anda sadari ketika memilih tidak berteman dengan seseorang atau menjauhi sekelompok tertentu karena merasa tidak ada yang keuntungan yang bisa diperoleh jika bergaul dengannya. 

Lama-kelamaan, sikap rasis yang terkesan sepele tersebut bisa membuat Anda terjebak dalam sikap rasis yang lebih parah. Nantinya Anda bisa dengan mudah mendiskriminasi orang lain atau berlaku buruk terhadap ras tertentu, tanpa menyadari tindakan tersebut salah. 

Karena itu, sedari awal lebih baik Anda mulai melakukan strategi agar tidak terjebak dalam sikap rasis tersebut. Berikut ini adalah beberapa tips dan cara yang dapat Anda lakukan guna tidak menjadi orang yang penuh dengan rasa dan sikap rasis. Bahkan dengan cara-cara ini, Anda juga bisa menekan rasisme yang terjadi di sekitar Anda. 

  1. Jangan Tertawa untuk Lelucon Rasis 

Awal mula sikap rasis bisa jadi muncul dari model bercanda yang mengarah pada ras tertentu. Dari candaan tersebut, muncul stigma terhadap orang-orang dengan ras tersebut yang lebih mengarah ke peremehan. Mulai sekarang, sebaiknya Anda tidak mengikuti bercandaan yang mengarah ke rasisme. Jika terpaksa harus bergabung dengan orang-orang yang sedang melakukan lelucon tersebut, jangan tertawa terhadap apa yang dilontarkan mereka sebab hal ini akan membuat lelucon tersebut terus digaungkan. Tunjukkan pada mereka bahwa Anda tidak menyukai lelucon rasis. 

  1. Keluar dari “Benteng”

Jangan hanya di rumah saja atau jangan terlalu nyaman bersenang-senang di kota Anda. Cobalah melangkahkan kaki untuk melakukan perjalanan jauh. Perjalananan akan membuat Anda menyadari bahwa ada banyak ras di berbagai tempat dan bagaimana sikap baik mereka memperlakukan Anda. Menyadari hal tersebut akan membuat Anda sadar bahwa bukan hanya Anda ataupun ras Anda yang baik dan bisa mendapatkan perlakuan layak di dunia. Ada banyak ras lain yang berhak mendapatkan kenyamanan dan kebaikan tersebut. 

  1. Stop Berasumsi 

Salah satu akar dari sikap rasis adalah asumsi yang berlebihan terhadap suatu kelompok tertentu. Asumsi tersebut sering kali tidak benar dan hanya muncul karena praduga yang tidak beralasan. Mulai sekarang jika menjumpai orang lain ataupun berinteraksi dengan orang lain, stop asumsi Anda! Asumsi hanya akan menggiring Anda ke pemikiran rasis sehingga Anda pun akan lebih melakukan tindakan-tindakan yang mengarah ke rasisme. 

  1. Berteman dengan Banyak Ras 

Berteman dengan banyak orang belum tentu baik. Berteman hanya dengan satu ras cenderung akan membuat Anda mudah memperlakukan orang lain dengan sikap rasis. Lebih baik, Anda mulai mencari teman-teman baru yang berbeda ras. Semakin banyak Anda memiliki teman yang berbeda ras, Anda akan semakin mengerti betapa majemuknya dunia ini. Dengan demikian, sikap rasis Anda pun akan luntur dengan sendirinya. 

  1. Jangan Mudah Percaya Media 

Beberapa gambaran di media baiknya tidak langsung Anda percayai, apalagi jika hal yang digambarkan cenderung mengarah ke ras tertentu. Sudah banyak peran media membuat sikap rasis terus eksis di dunia. Sebaiknya jika memperoleh gambaran akan ras tertentu di media, Anda mengecek ulang hal tersebut. Tidak ada salahnya Anda langsung bertanya kepada orang-orang atau teman Anda yang terkategori dalam ras tersebut mengenai benar tidaknya apa yang ditayangkan oleh media mengenai ras mereka. 

*** 

Sikap rasis tidak akan membuat diri Anda maupun dunia ini menjadi lebih baik. Justru dengan mencegah bersikap rasis, kondisi akan lebih damai dan pertikaian bisa diminimalkan. Karena itu, nyatakan peperangan dengan sikap rasis mulai sekarang, yuk!

Kumpulan Fakta Tentang Duck Syndrome

Pernahkah Anda berpura-pura bahagia sedangkan sebenarnya Anda tengah memendam suatu atau beberapa masalah psikologis seperti kesedihan, gelisah, cemas, dan sebagainya? Jika pernah dan frekuensinya cukup sering, hati-hati, bisa saja Anda tengah mengalami duck syndrom.

Duck syndrome sendiri kurang lebih memiliki definisi suatu kondisi di mana seseorang menunjukkan sesuatu yang berkebalikan dengan keadaan sebenarnya. Misal dia tengah bersedih, tetapi menampilkan wajah gembira seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Duck syndrome sendiri diambil dari kondisi bebek yang terlihat tenang dari permukaan padahal di dalam air, kedua kakinya mengepak dengan kuat. Kondisi duck syndrome berkait erat dengan muda-mudi atau para remaja. Hal ini menjadi wajar karena tuntutan sosial membuat kelompok umur ini harus terlihat sempurna untuk dapat “diterima” oleh lingkungannya.

Kondisi psikologis ini cukup menarik untuk dibahas lebih lanjut. Berikut beberapa fakta tentang duck syndrome:

  • Ditemukan dan Dipakai Pertama Kali oleh Universitas Stanford

Istilah ini awalnya digunakan untuk menjelaskan kondisi yang dialami oleh banyak mahasiswa di Universitas Stanford, California, Amerika Serikat. Mereka kerap “tersenyum palsu” atas semua tuntutan akademik, sosial, maupun komunitasnya. Seakan-akan mereka dapat melewati itu dengan sempurna. Padahal sebagai mahasiswa yang berasal dari berbagai macam latar belakang, mereka harus berjuang sekuat tenaga untuk menjawab tuntutan-tuntutan itu.

  • Berkaitan dengan Depresi Klinis

Duck syndrome sebenarnya tidak termasuk ke dalam kelompok diagnosis kesehatan mental formal. Namun, orang dengan duck syndrome sering kali menunjukkan masalah-masalah depresi klinis lain, mulai dari kecemasan (anxiety) hingga penyakit mental lainnya.

  • Berkaitan dengan Identitas dan Harga Diri

Inti dari permasalahan duck syndrome terletak pada identitas diri dan harga diri. Banyak orang yang kesulitan untuk menyikapi stress tinggi di lingkungannya dikarenakan sulit menemukan teman bicara, atau bahkan merasa permasalahan yang dialami merupakan hal yang memalukan. Oleh karena itu, mereka menutupinya dengan ‘topeng baik-baik saja’.

  • Berkait Erat dengan Media Sosial

Penggunaan media sosial dapat memunculkan perasaan gengsi dan minder. Mayoritas pengguna medsos meng-update status atau memposting foto hal-hal yang membahagiakan dan membanggakan. Padahal, apa yang terlihat tidaklah selalu sesuai dengan yang dibayangkan. Akhirnya media sosial pun bisa menjadi tekanan untuk terlihat sempurna.

  • Faktor Risikonya Terbagi Dua

Ada dua faktor risiko yang menyebabkan seseorang mengalami duck syndrome. Pertama risiko spesifik dan kedua risiko umum. Faktor spesifik berkaitan dengan hal-hal yang berada di luar dirinya (eksternal), semisal tuntutan dari orang tua, lingkungan, dan sebagainya. Sementara risiko umum yang berkaitan dengan diri mereka atau internal, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, yakni masalah-masalah kesehatan mental, termasuk depresi atau kecemasan.

  • Tidak Ada Tanda yang Jelas

Fakta ini berkaitan dengan fakta-fakta sebelumnya. Karena duck syndrome tidak termasuk kondisi medis formal, tiada kriteria diagnosa atau tanda-tanda yang jelas dan pasti untuk memeriksa kondisi ini, selain gambaran situasi seperti bebek tadi.

Dokter atau psikiater mungkin akan memulai pemeriksaan dari penilaian mengenai kondisi kesehatan mental secara menyeluruh. Tingkat kecemasan, depresi, dan penyakit mental lain akan dievaluasi untuk dapat mengatasi masalah ini.

  • Pengobatan

Untuk mengatasi kondisi duck syndrome, dokter atau psikiater mungkin akan menerapkan dua macam prosedur, yakni psikoterapi dan pengobatan medis. Mereka akan menyasar masalah-masalah mental yang ada di dalam diri pasien terlebih dahulu untuk mengatasi masalah ini.

  • Komplikasi

Jika penderita duck syndrome tidak mendapat penanganan, bukan tidak mungkin penyakit mental bawaan mereka akan semakin parah dan menimbulkan kondisi lanjutan. Dikatakan bahwa depresi dan kecemasan bisa menimbulkan masalah medis, masalah kesehatan mental lainnya, kecacatan, dan kematian dini.

Itulah beberapa fakta yang dapat diketahui mengenai fenomena duck syndrome. Akhirnya, pengakuan dan terbuka mengungkapkan perasaan yang tengah dialami menjadi faktor penting untuk dapat terhindar dari kondisi ini. Jangan lupakan juga kenyataan bahwa terlihat “sedang tidak baik-baik saja” terkadang perlu dilakukan oleh setiap orang untuk menjaga kewarasan mereka.