Fibrosis Paru Sebabkan Kesulitan Bernapas hingga Komplikasi

Fibrosis paru adalah sebuah kondisi, di mana jaringan parut tumbuh di organ paru-paru yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan bernapas. Jaringan parut ini tumbuh setelah seseorang mengalami cedera atau luka. Tumbuhnya jaringan paru ini selain dapat mengakibatkan kesulitan bernapas, ia juga berpeluang memicu penyakit berbahaya lain, seperti gagal jantung, komplikasi, dan lainnya.

Bagaimana mendiagnosis fibrosis paru?

Fibrosis paru hanyalah salah satu dari sekitar 200 jenis penyakit paru yang dikenal dalam dunia medis. Banyaknya jenis penyakit paru tersebut, terkadang menyulitkan dokter dalam mengidentifikasi fibrosis paru. Sekitar 55% responden dalam survei yang diadakan oleh Pulmonary Fibrosis Foundation, mendapatkan diagnosis yang salah. Kesalahan ketika mendiagnosis fibrosis paru, antara lain asma, pneumonia, atau bronkitis.

Seiring berkembangnya pengetahuan dan teknologi, fibrosis paru dapat didiagnosis secara lebih tepat. Hal ini dilakukan dengan menganalisis riwayat kesehatan pasien dengan hasil CT scan khusus dada. Opsi untuk melakukan pemeriksaan biopsi atau sampel jaringan juga terkadang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil diagnosis yang akurat. Fibrosis paru juga dapat didiagnosis dengan beberapa alat atau prosedur lain, seperti:

  • pemeriksaan darah untuk mencari tahu penyakit autoimun, infeksi, dan anemia.
  • Tes fungsi paru untuk mengukur kapasitas paru.
  • Tes ekokardiogram (EKG) atau cardiac stress test untuk mengetahui permasalahan jantung.
  • Pengambilan sampel dahak untuk memeriksa tanda infeksi.
  • Pulse oximetry yang bertujuan untuk mengukur kadar oksigen.
  • Gas darah arteri untuk mengetahui kadar oksigen dalam darah.

Gejala-gejala fibrosis paru

Masyarakat cenderung kurang akrab dengan fibrosis paru, dibanding dengan penyakit paru lain, seperti asma atau bronkitis. Gejala fibrosis paru umumnya juga tidak begitu terasa. Namun, gejala utama yang perlu diperhatikan dari fibrosis paru adalah sesak napas.

Setelah itu, muncul gejala lain, yang mungkin akan beragam antara satu penderita dengan lainnya. Begitu juga dengan intensitas penyakit ini yang berbeda pada tiap penderita. Ada yang mengalami perkembangan penyakit dalam waktu yang singkat, ada juga yang menderita gejalanya dalam waktu yang lambat. Gejala-gejala yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Nyeri pada persendian dan otot.
  • Napas yang cenderung pendek.
  • Mudah merasa lelah.
  • Batuk kering yang berkepanjangan.
  • Penurunan berat badan.
  • Ujung jari kaki dan tangan melebar dan membulat.

Bagaimana cara mengobati fibrosis paru?

Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan yang mampu menyembuhkan fibrosis paru secara efektif. Jaringan paru-paru yang terinfeksi tidak dapat kembali ke kondisi normal. Walaupun begitu, tetap terdapat cara-cara untuk mencegah penyakit ini lebih parah dan membantu pernapasan penderita:

  • Prednison yang digunakan untuk mengurangi peradangan dan menekan sistem kekebalan tubuh.
  • Pirfenidone atau nintedanib yang merupakan obat antifibrotik. Obat ini berguna untuk mencegah pembentukan jaringan parut pada paru-paru.
  • Oksigen tambahan.

Selain tiga opsi di atas, menjaga dan menerapkan gaya hidup sehat, seperti tidak merokok, membantu mengurangi risiko terjangkitnya fibrosis paru ini. Selain itu, menggunakan perlindungan untuk alat pernapasan ketika bekerja di lingkungan yang berkaitan dengan bahan-bahan kimia, juga perlu diperhatikan.

Waspada Vertigo sebagai Gejala Penyakit Meniere

Pusing berputar yang sering dialami oleh seseorang umumnya menjadi gejala utama penyakit vertigo. Namun, jika penyakit ini terjadi dalam intensitas yang cukup tinggi, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, tentu harus segera diatasi. Belum lagi, ternyata vertigo dapat menjadi tanda adanya penyakit lain yang diderita, yaitu penyakit meniere.

Penyakit meniere adalah sebuah penyakit gangguan pada telinga. Gangguan ini disebabkan oleh penumpukan cairan pada telinga bagian dalam. Walaupun begitu, penyebab terjadinya penumpukan cairan ini belum diketahui secara jelas.

Terdapat beberapa faktor yang dikenali menjadi penyebab terjadinya penyakit meniere. Faktor penyebab tersebut dapat berupa terjadinya sirkulasi cairan yang buruk di dalam telinga, adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh, infeksi virus meningitis, alergi, cedera kepala, migrain, serta riwayat kesehatan keluarga yang memiliki penyakit serupa.

Salah satu gejala yang umumnya timbul pada penyakit meniere adalah pusing yang menyebabkan efek berputar. Vertigo yang terjadi pada seseorang yang menderita penyakit meniere dapat berlangsung hingga 20 menit bahkan berjam-jam lamanya dan dapat terjadi dalam selang waktu tidak lebih dari 24 jam.

Gejala lain yang mungkin timbul, yaitu telinga berdenging atau yang juga disebut sebagai tinitus, menurunnya kemampuan mendengar secara tajam, dan juga adanya perasaan seakan-akan telinga terasa penuh.

Penyakit meniere biasanya menimpa kelompok umur 40-60 tahun. Gangguan ini biasanya hanya terjadi pada salah satu sisi telinga saja.

Proses mendiagnosis penyakit meniere dilakukan dengan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada bagian telinga. Selain itu, dokter juga akan melakukan tes pendengaran dan keseimbangan. Hal ini dilakukan untuk membedakan gejala penyakit meniere dengan penyakit yang memiliki gejala serupa, seperti vertigo perifer atau otitis media supuratif kronis. Hasil diagnosis dari pemeriksaan tersebut dapat memengaruhi metode penanganan dan terapi yang akan diberikan pada pasien.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum Anda berkonsultasi dengan dokter untuk permasalahan yang Anda hadapi, yaitu:

  • Membuat daftar gejala yang selama ini dirasakan.
  • Menuliskan informasi dengan rinci mengenai kondisi kesehatan hingga riwayat medis keluarga.
  • Menuliskan semua jenis obat, vitamin, maupun suplemen yang sedang dikonsumsi lengkap dengan besaran dosis.
  • Siapkan beberapa pertanyaan yang Anda akan ajukan kepada dokter.
  • Temui dokter bersama dengan anggota keluarga atau teman agar membantu Anda mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.