Mengenal Arti CT dalam Swab PCR Test

Untuk mengetahui apakah terkena virus COVID-19 atau tidak, kamu harus menjalani tes. Salah satu tes yang dikenal ialah PCR. Tes ini adalah yang paling akurat sehingga direkomendasikan untuk mengidentifikasi infeksi virus corona. Dengan swab PCR test ini, kamu akan mendapatkan keterangan nilai cycle threshold atau CT. Lalu apa maksud CT dari hasil swab PCR test

Sebelum tahu lebih dalam soal CT, ketahuilah bahwa diagnosis virus corona dilakukan melalui metode real-time RT-PCR. Dalam tes ini, petugas kesehatan akan mengambil cairan dari tenggorok dan hidung seseorang.

Selanjutnya, sampel dimasukkan ke tabung khusus untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Pada tahap berikutnya, sampel diekstraksi menggunakan kit tertentu agar dapat mengeluarkan materi virus yang disasar.

Selanjutnya, materi genetik diperbanyak (amplifikasi) menggunakan mesin real time PCR. Proses tersebut bisa dilakukan sampai sekitar 40 siklus.

Mesin real time PCR memakai floresens sehingga tiap kali diperbanyak, terbentuklah sinyal floresens. Jumlah sinyal floresens yang terbentuk itu berbanding lurus dengan amplifikasi yang terjadi.

Dalam edaran Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) disebutkan, hasil pemeriksaan real time PCR dinyatakan positif bila terdapat akumulasi sinyal fluoresens.

CT value merupakan jumlah siklus yang diperlukan hingga sinyal fluoresens melampaui atau melewati ambang (threshold).

“Nah, nilai CT berbanding terbalik secara proporsional dengan jumlah asam nukleat target pada sampel. Semakin rendah nilai CT, makin tinggi jumlah asam nukleat target,” kata dr. Astrid Wulan Kusumoastuti.

Pada umumnya, batas ambang nilai CT adalah 40, dengan interpretasi sebagai berikut:

  • nilai Ct 29 – 37: positif, yakni ada target asam nukleat dalam jumlah sedang.
  • nilai Ct 38 – 40: positif lemah, yakni target asam nukleat dalam jumlah sedikit, dan ada kemungkinan kontaminasi yang berasal dari lingkungan.

Namun demikian, menurut pernyataan PAMKI, beberapa kit reagen mencantumkan threshold yang berlainan, misalnya 41, 35, atau 38. Itu sebabnya, interpretasi hasil PCR harus disesuaikan kembali.

Beberapa studi membuktikan, ada hubungan antara infektivitas viral load dengan nilai CT swab test. Salah satunya yang dilakukan Bullard, J. dkk pada 2020. Kesimpulannya, pasien tidak infeksius lagi pada hasil real time PCR dengan nilai Ct ≥24.

Studi lainnya dilakukan Bordon, dkk tahun 2020. Dia mengungkapkan, tenaga kesehatan dengan nilai CT 38 dan sudah 29 hari sejak mendapat hasil PCR positif, dinyatakan sudah tidak bisa menularkan lagi.

Nilai CT Tinggi, Apa Virus Pasti Tidak Infeksius? 

Lantas, apakah itu artinya nilai Ct yang tinggi menunjukkan pasien COVID-19 tidak lagi infeksius?

Soal itu, dr. Astrid menjelaskan, “Untuk saat ini, belum menjadi saran secara umum menggunakan CT value untuk menentukan apakah seorang pasien COVID-19 infeksius atau tidak. Hal ini karena masih perlu pemeriksaan fisik dan kondisi pasien.”

“Tetap harus disesuaikan dengan pemeriksaan fisik dan kondisi klinis pasien. Itu karena CT value bisa juga dipengaruhi oleh metode ekstrak sampel dan lain-lain, belum lagi batas ambang nilai CT bisa berbeda,” dia menambahkan.

Kelemahan CT dan Hal-hal yang Tidak Bisa Dideteksinya

Meski bisa menjadi salah satu petunjuk, nilai CT belum bisa dijadikan satu-satunya pijakan untuk menentukan seorang pasien virus corona masih bisa menularkan atau tidak. Ada beberapa hal yang tidak bisa dideteksi oleh nilai CT, yaitu:

  • Belum ada penelitian menyeluruh dan komprehensif yang dapat diandalkan untuk membuktikan korelasi langsung antara tingkat keparahan penyakit, infeksi, dan nilai CT.
  • Nilai CT berbeda dari satu kit ke kit lainnya. Nilai CT yang dihasilkan sangat bergantung pada hal-hal teknis, seperti metode pengambilan sampel, jumlah materi genetik dalam sampel, metode ekstraksi yang digunakan, serta kit PCR yang dipakai.
  • Pasien dalam tahap gejala awal mungkin menunjukkan nilai CT yang tinggi kemudian dapat berubah. Dalam kasus seperti itu, nilai CT tidak bisa dijadikan patokan.
  • Tingkat keparahan penyakit COVID-19 sangat bergantung pada faktor viral load. Beberapa pasien dengan viral load rendah mungkin terjangkit penyakit yang sangat parah karena memicu reaksi imun. Karena itu, nilai CT yang tinggi tidak dapat menjadi patokan.
  • Uji real time PCR yang dilakukan saat ini bersifat kualitatif. Nilai CT dapat memberikan perkiraan kasar tentang viral load. Namun, standar yang lebih khusus masih diperlukan untuk pengujian kuantitatif.

Demikian penjelasan mengenai nilai CT yang ada di lembar hasil swab PCR test. Semoga menambah wawasanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *