Konsumsi Protein Berlebih Apakah Berbahaya?

Mungkin Anda sudah familiar dengan diet tinggi protein. Diet seperti diet Caveman dan diet Paleo terdiri dari rasio makronutrien yang beragam, namun biasanya tinggi konsumsi protein. Meskipun standar diet ketogenic menekankan lemak, diet ini juga bisa tinggi protein. Bahkan diet yang terdiri dari makanan nabati juga bisa mengandung protein dalam jumlah yang tinggi. Protein adalah bagian penting untuk diet yang sehat. Konsumsi protein dapat membantu membentuk dan memperbaiki otot, organ tubuh, dan tulang. Diet tinggi protein juga terbukti bermanfaat dalam mengurangi lemak, menurunkan berat badan, lebih mudah membuat kenyang, dan menjaga otot. 

Akan tetapi, konsumsi protein juga telah dihubungkan dengan beberapa risiko yang penting untuk diketahui dan dipahami. Ahli nutrisi menyarankan agar konsumsi protein dalam batas yang wajar dan tidak melebihi nilai harian yang direkomendasikan. Beberapa risiko terlalu banyak konsumsi protein di antaranya adalah:

  • Bertambahnya berat badan

Diet tinggi protein dapat mengurangi berat badan. Namun, pengurangan berat badan jenis ini hanya bersifat sementara dan jangka pendek. Konsumsi protein berlebih biasanya disimpan dalam bentuk lemak, sementara asam amino dibuang dari dalam tubuh. Hal ini akan menyebabkan pertambahan berat badan, terutama apabila Anda mengonsumsi banyak kalori serta berusaha meningkatkan konsumsi protein. Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa pertambahan berat badan diasosiasikan dengan diet di mana protein menggantikan karbohidrat, namun tidak menggantikan lemak. 

  • Bau mulut tidak sedap

Konsumsi protein dalam jumlah besar dapat menyebabkan bau mulut yang tidak sedap, terutama apabila Anda membatasi asupan karbohidrat. Ini mungkin disebabkan karena tubuh Anda sedang berada dalam kondisi metabolisme yang disebut ketosis, yang memproduksi zat kimia yang memiliki bau tidak sedap. Menyikat gigi ataupun “flossing” tidak akan menghilangkan bau tersebut. Untuk mengatasinya, Anda bisa meminum banyak air atau mengunyah permen karen. 

  • Konstipasi

Dalam sebuah studi, 44 persen pesertanya melaporkan adanya konstipasi. Ini disebabkan karena diet tinggi protein yang membatasi karbohidrat biasanya rendah serat. Meningkatkan asupan air dan serat dapat membantu mencegah konstipasi. 

  • Diare

Memakan terlalu banyak makanan olahan ataupun produk susu dapat menyebabkan terjadinya diare. Hal ini berisiko tinggi terutama apabila Anda menderita intoleransi laktosa atau mengonsumsi sumber protein seperti daging, ikan, dan hewan ternak lainnya. Untuk menghindari terjadinya diare, minum banyak air, hindari minuman berkafein, dan batasi makanan gorengan atau konsumsi lemak berlebih. Selain itu, tingkatkan asupan serat Anda. 

  • Dehidrasi

Tubuh akan membuang nitrogen berlebih bersama air dan cairan. Hal ini dapat menyebabkan Anda dehidrasi meskipun Anda tidak merasa haus dibandingkan biasanya. Studi kecil tahun 2002 melibatkan atlet menemukan bahwa dengan konsumsi protein meningkat, level hidrasi malah menurun. Akan tetapi, studi tahun 2006 menyimpulkan bahwa konsumsi lebih banyak protein memiliki dampak yang lebih minim pada hidrasi. Risiko atau efek ini dapat diminimalisir dengan cara meningkatkan asupan air, terutama apabila Anda adalah seorang yang aktif. Tanpa menghiraukan pentingnya konsumsi protein, sangat penting bagi Anda untuk minum air sepanjang hari. 

Penting bagi Anda untuk memahami risiko yang dibawa apabila konsumsi protein berlebih terjadi. Selalu konsultasi dengan dokter atau ahli nutrisi sebelum memulai diet baru apapun, terutama apabila Anda memiliki kondisi kesehatan medis tertentu. Dokter dapat membantu Anda menunjukkan pro kontra diet tinggi protein berdasarkan kebutuhan Anda. Intinya, penting bagi Anda untuk makan makanan yang sehat dan seimbang, serta memiliki gaya hidup yang aktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *