Kenali Obat TBC dan Efek Samping yang Ditimbulkan

TBC merupakan salah satu penyakit kronis yang menyerang sistem pernapasan atas yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Penyakit ini pun ada obat untuk mengatasinya namun untuk menggunakannya harus sesuai anjuran. Seperti pengobatan umum, efek samping obat TBC juga perlu diwaspadai.

Pengobatan terhadap penyakit ini sangat perlu sebab apabila tidak diobati, bakteri mycobacterium tuberculosis ini akan dapat menyebar ke seluruh tubuh yang berpotensi mengancam jiwa penderitanya.

Penyakit ini juga dapat mengakibatkan komplikasi jika tidak segera diobati seperti nyeri tulang punggung, meningitis, kerusakan sendi, gangguan hati, ginjal, dan jantung.

Pengobatan untuk TBC sendiri memakan waktu yang cukup lama karena berkisar dari 6-12 bulan, dan hal ini dikarenakan berbagai faktor seperti usia, jenis infeksi, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Bagi Anda yang sedang menderita TBC diharapkan harus rajin mengonsumsinya sesuai dengan anjuran agar cepat sembuh serta tidak terkena lagi dengan melakukan gaya hidup sehat.

Berikut ini adalah beberapa obat TBC yang sering diberikan pada pasien:

Obat TBC paru

Ini adalah obat TBC berupa antibiotik kombinasi yang diberikan dalam kurun waktu 6 bulan apabila TBC pada paru menjadi aktif.

TBC pada paru sendiri TBC yang menggambarkan bakteri penyebab TBC menyerang paru-paru, dan penderitanya mengalami gejala-gejala penyakit tersebut.

Antibiotik yang biasa digunakan adalah isoniazid dan rifampicin. Keduanya diberikan selama 6 bulan.

Adapun dalam masa 6 bulan itu terdapat tambahan berupa pirazinamid dan etambutol yang diberikan selama 2 bulan pertama.

Obat ini biasanya akan memberikan kesembuhan dalam waktu 2 bulan. Meski begitu, untuk benar-benar memastikan penderitanya benar-benar sembuh, pemberian obat harus sampai 6 bulan sebab jika penderita terkena lagi akan sulit diobati kembali.

Obat TBC luar paru

Ini adalah obat TBC yang digunakan untuk mengobati TBC yang terjadi di luar paru-paru seperti di kelenjar, tulang, usus, otak hingga ginjal.

Antibiotik yang diberikan hampir sama dengan TBC paru namun ada tambahan berupa kortikosteroid seperti prednisolon yang diminum bersamaan dengan antibiotik. Pemberian tambahan ini untuk mengobati pembengkakan. Supaya efektif pengobatan harus dilakukan dalam jangka waktu 6 hingga 9 bulan.

TBC Resisten pada obat

Artinya adalah salah satu obat TBC yang tidak bisa melawan bakteri penyebab TBC itu sendiri sehingga memerlukan kombinasi antibiotik fluoroquinolones dan obat suntik seperti amikacin dan capreomycin.

Selain itu terdapat terapi tambahan berupa pemberian Bedaquiline dan Linezolid. Pengobatan untuk melawan resistensi ini membutuhkan waktu hingga 30 bulan.

Obat TBC laten 

Adalah obat TBC untuk penderita TBC tetapi tidak memiliki gejala infeksi aktif, dan pengobatannya ditujukan untuk membunuh bakteri sampai tuntas.

Obat yang diresepkan adalah kombinasi ripamfisin dan isoniazid yang diminum selama 3 bulan atau 6 bulan.

Apabila penderita TBC laten ini berusia di atas 65 tahun biasanya ada penambahan terapi lain untuk mengatasi gangguan sistem daya tahan tubuh atau si penderita sedang menjalani kemoterapi.

Efek samping obat TBC

Berikut ini adalah beberapa efek samping yang dapat dirasakan setelah menjalani pengobatan tuberkulosis.

Gangguan fungsi hati

Hampir semua obat tuberkulosis akan mempunyai salah satu efek samping ini yang gejalanya berupa mata dan kulit terlihat kuning, mual, muntah, dan meningkatnya enzim hati.

Gatal dan kemerahan pada kulit

Gejala yang ditimbulkan dari efek samping ini adalah kulit tampak merah, gatal, dan bentol. Apabila pada kondisi berat penderita akan mengalami sesak napas, demam tinggi, dan kulit melepuh.

Nyeri sendi

Efek samping yang satu ini disebabkan oleh pemakaian salah satu obat, yaitu pyrazinamid yang ternyata dapat meningkatkan kadar asam urat yang berujung pada nyeri sendi.

Kesemutan

Kondisi ini akibat dari pemakaian isoniazid yang menyebabkan kerusakan pada syarat tepi atau neuropati sehingga terjadi kesemutan dan rasa terbakar di kaki.

Gangguan pendengaran

Hal ini akibat obat TBC yang disuntikkan atau streptomisin yang ternyata merusak organ dalam pendengaran, dan biasanya terjadi pada pasien lanjut usia.

Urine-keringat berwarna merah

Efek samping obat TBC terakhir yang dapat dirasakan adalah urine dan keringat berwarna merah, dan berasal dari penggunaan ripamfisin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *